Detail Berita

Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Program Gerdu Kempling

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita
15 April 2016 - 14:33:25 WIB

KEMISKINAN merupakan masalah yang kompleks, sehingga diperlukan penangan terpadu dan berkelanjutan. Program penanggulangan kemiskinan adalah kegiatan yang dilakukan secara terpadu dan diharapkan sinergitas antara pemerintah kota , dunia usaha, perguruan tinggi  dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta pemberdayaan usaha ekonomi mikro.

Untuk itu telah dibentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) di Kota Semarang, guna mengoordinasi program/kegiatan penanggulangan kemiskinan dengan SK Walikota Semarang  No. 465/0320/2010 tanggal 2 September 2010. 

Selanjutnya diperlukan pengembangan strategi penanganan kemiskinan sesuai dengan profil warga miskin, untuk mendukung program pertama dari Sapta Program, yaitu penanggulangan kemiskinan dan pengangguran.

Tercatat, angka kemiskinan di Kota Semarang saat ini mencapai 26,41%. Selama lima tahun ke depan diharapkan angka kemiskinan ini dapat terus ditekan 2% pertahun melalui berbagai program terpadu SKPD Kota Semarang.

Terkait penanganan kemiskinan tersebut, pemkot juga telah melakukan pendataan warga miskin yang selanjutnya diharapkan mampu mengentaskan kemiskinan dengan semakin jelas, terukur, serta tepat sasaran sebagaimana tercantum dalam Sapta Program.

“Pemkot memetakan daerah atau kelurahan mana saja yang ada warga miskinnya. Dari pendataan 177 kelurahan tersebut akan diprioritaskan kelurahan di bawah garis kemiskinan untuk ditangani secara terpadu dengan menggalakkan tribina, yaitu bina orang, bina lingkungan, dan bina usaha,” kata Walikota Soemarmo HS.di ruang Lokakrida Gedung Moch Ihsan.

Walikota mengungkapkan, pengentasan kemiskinan salah satunya dilakukan melalui Gerdu Kempling, sebuah program atau gerakan terpadu yang memprioritaskan penanganan kemiskinan di setiap kelurahan yang masih ada warga di bawah garis kemiskinan.

Gerdu Kemplingmerupakan singkatan dari Gerakan Terpadu  Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, Infrastruktur, Lingkungan. Penjabarannya, merupakan Gerakan Terpadu yang melibatkan seluruh stakeholder dalam hal ini Pemkot, Perguruan Tinggi, BUMN, Perusahaan Swasta , Perbankan yang bersama-sama bersinergi mengatasi persoalan kemiskinan  mencakup segala aspek dan terangkum dalam 5 bidang, yaitu Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, Infrastruktur, dan Lingkungan.

Gerdu Kempling mengandung filosofi pos/tempat yang  bersih, cemerlang melalui: hati dan pikiran bersih dalam melaksanakan program pembangunan, khususnya dalam melaksanakan Program Pengentasan Kemiskinan di Kota Semarang.

Cemerlang, terutama dalam menuangkan ide-ide yang kreatif dan inovatif dalam program penanggulangan kemiskinan, baik dalam konsep maupun aplikasinya, sehingga dapat mengentaskan masyarakat miskin di Kota Semarang melalui konsep/pola-pola yang diberikan oleh pemerintah menjadi masyarakat yang cemerlang, yang mampu mandiri menghidupi dirinya sendiri, sehingga menjadi masyarakat yang sejahtera.

Kata Gerdu Kempling akan mudah diingat oleh seluruh elemen masyarakat, sehingga diharapkan dapat membangkitkan semangat kepedulian/gigih untuk ikut serta dalam penanggulangan kemiskinan di Kota Semarang.

Program Gerdu Kemling, dengan tahap pelaksanaan 2 kali dalam setahun. Tahun ini, 32 kelurahan akan dijadikan pilot project Gerdu Kempling. Selanjutnya pada 2012 ada 48 kelurahan, 2013 juga ada 48 kelurahan, 32 kelurahan pada tahun 2014, dan di 2015 ada 17 kelurahan.

”Itulah gerakan terpadu untuk penanggulangan kemiskinan di bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan lingkungan,” tegas Walikota. “Sebagaimana dalam RPJMD, ditargetkan tiap tahunnya angka kemiskinan dapat menurun 2% atau bahkan lebih, mengingat akan lebih tepat sasaran, jelas, dan terukur,” lanjutnya.

Kelurahan yang dijadwalkan tercover dalam Gerdu Kempling 2011 di antaranya Kelurahan Bulu Lor dan Tanjung Mas (Semarang Utara), Kelurahan Gebangsari dan Terboyo Kulon (Kecamatan Genuk), Kelurahan Mangkang Kulon dan Mangunharjo (Kecamatan Tugu). Plalangan dan Mangunsari (Kec. Gunungpati), Karangtempel  dan Rejomulyo (Kec. Semarang Timur),Sumurboto dan Jabungan (Kec. Banyumanik) Ngaliyan dan Bambankerep (Kec. Ngaliyan), Tembalang dan  Rowosari(Kec. Tembalang) Candi dan Jomblang ( Kec. Candisari) Gajahmungkur dan Bendanduwur (Kec. Gajahmungkur) Palebon dan Tlogosari Wetan( Kec. Pedurungan) Pekunden dan Gabahan (Kec. Semarang Tengah)Gayamsari dan Sawah Besar (Kec. Gayamsari, Wonolopo dan Karangmalang (Kec. Mijen), Kalibanteng Kulon dan Krobokan (Kec. Semarang Barat ),Pleburan dan Lamper Lor ( Kec. Semarang Selatan)..

Walikota mengungkapkan, jumlah keluarga miskin di Semarang sesuai hasil survei Bappeda ada sebanyak 11.558 kepala keluarga atau 398 ribu jiwa. Mereka tersebar di 32 kelurahan. Pemkot bertekad menurunkan angka kemiskinannya 2% setiap tahun. Karena itulah diadakan pemetaan keluarga miskin.

Mengenai ditunjuknya Undip dan Unnes, karena perguruan tinggi itu telah berpengalaman melakukan pembinaan daerah miskin. Undip misalnya, melakukan pendampingan di Kecamatan Tugu dan Tembalang. Kemudian Unnes memiliki daerah binaan di Kelurahan Kandri, Sukorejo, Krobokan, dan Tanjung Mas.(PTR-KEM).