Analisis Pelaksanaan Program Pendidikan Anak Usia Dini

Berdasarkan paparan kinerja pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini sampai tahun 2013, dapat dilakukan analisis dan identifikasi kebutuhan program dan kegiatan di masa yang akan datang. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode Analisis SWOT dengan membagi pada dua besaran analisis yaitu analisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan analisis lingkungan eksternal (peluang dan ancaman). Analisis lingkungan internal merupakan upaya untuk memahami kekuatandan kelemahan yang dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program pendidikan non formal dan informal. Sedangkan analisis eksternal merupakan upaya untuk memahami peluang dan tantangan dalam pelaksanaan program pendidikan non formal dan informal sehingga tingkat keberhasilannya dapat diprediksi secara tepat.Kondisi dan keberhasilan pelaksanaan program-program pendidikan non formal dan informal tidak dapat dipisahkan dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada.

Berbagai masalah yang harus dihadapi dalam pelaksanaan dan pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini antara lain:

  1. Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini di Kota Semarang selama ini belum merata dan belum maksimal terutama pada rentang usia 0-3 tahun, hal ini disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dan terkesan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini masih merupakan sesuatu yang dipandang sebagai pendidikan yang bersifat belum wajib sehingga belum perlu memasukkan anak ke PAUD. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya PAUD  melalui jalur non formal bagi masyarakat  perlu banyak didorong dan dilakukan.
  2. Kebutuhan layanan Pendidikan Anak Usia Dini harus betul-betul disesuaikan dengan kebutuhan, perkembangan, tantangan, dan potensi masyarakat maupun daerah.
  3.  pengelola Pendidikan Anak Usia Dini masih perlu ditingkatkan kualifikasi dan kompetensinya.
  4. Sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini masih perlu ditambah dan diperkaya pada lembaga penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini, baik APE (Alat Peraga Edukatif) dalam maupun luar ruangan.
  5. Data dan informasi Pendidikan Anak Usia Dini masih belum tersusun secara baik dan akurat sehingga sering terjadi perbedaan data. Keadaan ini membawa implikasi terhadap penyusunan perencanaan program dan target Pendidikan Anak Usia Diniyang kurang mantap karena belum didasarkan pada data yang lengkap dan akurat.
  6. Anggaran di bidang Pendidikan Anak Usia Dini perlu ditingkatkan untuk menjangkau jumlah sasaran yang baru terlayani pada tahun 2013.
  7. Pelaksanaan otonomi pendidikan sebagai konsekuensi logis otonomi daerah menyebabkan perlunya koordinasi dan konsolidasi dalam pengelolaan dan penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. Peran pemerintah daerah perlu terus ditingkatkan.

Secara internal, kekuatan penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut:

  1. Komitmen pemerintah dan dukungan legislatif sangat baik dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. Hal ini terkait dengan adanya target dan indikator keberhasilan Program Pendidikan Anak Usia Dini dalam Millenium Development Goals (MDGs).
  2. Adanya semangat voluntarisme dan partisipasi masyarakat sebagai tutor atau pengajar dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini.
  3. Adanya bantuan dana (blockgrant) kepada lembaga-lembaga penyelenggara meskipun dana yang diberikan masih relatif kecil.
  4. Kerjasama dan kemitraan yang terjalin baik antara Dinas Pendidikan kota Semarang dengan lembaga sosial kemasyarakatan, organisasi profesi, organisasi  wanita, perguruan tinggi, dan lain-lain.
  5.  Dukungan anggaran yang makin baik dan mulai naik sehingga menjangkau jumlah sasaran program Pendidikan Anak Usia Dini yang besar dan bervariasi.

Sementara itu, berbagai kelemahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini antara lain:

  1. Jumlah anak usia dini yang cukup besar yang harus dilayani tidak sebanding dengan ketersediaan dana, sarana dan prasarana serta tenaga pendidik Pendidikan Anak Usia Dini yang tersedia.
  2. Data dan infomasi yang tersedia masih sangat terbatas, sehingga menjadi kendala dalam perencanaan program.
  3. Program layanan Pendidikan Anak Usia Dini pada umumnya baru memberikan layanan bagi anak usia 4 tahun ke atas dan sebagian besar lembaga layanan Pendidikan Anak Usia Dini tersebut berada di daerah perkotaan.
  4. Kualifikasi dan kompetensi pada pendidik dan kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini pada umumnya belum sesuai dengan standar yang ditetapkan dan sebagian dari mereka bekerja secara sukarela (volunteer).
  5. Program Pelayanan Perawatan dan Pendidikan Anak Usia Dini belum sepenuhnya dilaksanakan secara holitistik dan integratif (terpadu).
  6. Koordinasi dan kerjasama antar lembaga, organisasi yang terkait dengan Pendidikan Anak Usia Dini belum optimal.
  7. Sosialisasi, promosi dan edukasi tentang pentingnya perawatan dan Pendidikan Anak Usia Dini belum merata ke menyentuh semua lapisan masyarakat.

Analisis lingkungan eksternal dapat dirumuskan beberapa peluang dan tantangan yang dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program-program di bidang pendidikan non formal dan informal. Peluang dan tantangan itu adalah sebagai berikut:Komitmen pemerintah yang kuat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui peningkatan anggaran dan sumber daya pendukung lainnya di bidang pendidikan non formal dan informal sebagai payung Pendidikan Anak Usia Dini.

  1. Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini percontohan dapat dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan / magang bagi lembaga Pendidikankan Anak Usia Dini lain yang belum memenuhi standar sekaligus meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.
  2. Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini yang dilakukan dengan memberdayakan peran komunitas lokal dengan tujuan merangsang partisipasi masyarakat dalam menangani permasalahan belum tertampungnya anak-anak usia 3-4 tahun dalam Pendidikan Anak Usia Dini.
  3. Pengembangan model inovatif dan yang dilakukan melalui pemberian bantuan dan / atau blockgrant perlu dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi pendidikan di Kota Semarang.
  4. Perluasan pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini profesional. Peningkatan kualitas pendidikan melalui Professional Development System (PDS) dalam pendidikan dan pelatihan bagi pendidik / guru Pendidikan Anak Usia Dini.
  5. Adanya kerjasama antara pemerintah dengan berbagai organisasi wanita dan kemasyarakatan dalam upaya percepatan pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini di seluruh Kota Semarang.

Beberapa tantangan yang harus dicermati dalam pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini, di antaranya sebagai berikut:

  1. Sebagian besar Taman Kanak-kanak formal hingga saat ini dikelola oleh swasta sehingga kenyataan menunjukkan bahwa masih ada orang tua yang dengan sengaja memasukkan anaknya (kelompok usia Pendidikan Anak Usia Dini) ke kelas 1 Sekolah Dasar dengan tujuan memangkas biaya pendidikan.
  2. Jumlah pendidik / guru Pendidikan Anak Usia Dini yang memenuhi kualifikasi S1 / D4  masih sangat terbatas. Latar belakang pendidikan ini sangat mempengaruhi remunerasi yang ditetapkan oleh pemilik lembaga (bagi Taman Kanak-kanak / Pendidikan Anak Usia Dini swasta) sehingga hal ini akan mempengaruhi kualitas program Pendidikan Anak Usia Dini yang diselenggarakan di daerah tersebut.
  3. Masih belum meratanya pemahaman masyarakat tentang arti pentingnya perawatan dan pendidikan anak usia dini terutama bagi keluarga, orang tua dan masyarakat di daerah terpencil dan sulit dijangkau.

Masih terbatasnya perhatian dan dukungan Pemerintah Daearah pada program pendidikan non formal dan informal melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), khususnya untuk Pendidikan Anak Usia Dini.