Istilah gender seringkali konsepsikan oleh masyarakat luas sebagai perempuan. Ini sudah salah kaprah, karena gender bukan perempuan, gender juga bukan konsep tentang seksual. Konsep seksual merupakan konsep perbedaan jenis kelamin yang telah dibentuk oleh Tuhan dengan sempurna. Perempuan dicirikan pemilik rahim, dan fungsi yang dijalankannya, yaitu menstruasi, hamil dan melahirkan serta enyusui, sedangkan laki-laki merupakan gambaran manusia dengan jakun dan kelamin yang menghasilkan sperma. Jelas bahwa gender bukan manusia.

Gender didefinisikan sebagai perbedaan perbedaan sifat, peranan, fungsi dan status antara laki-laki dan perempuan bukan berdasarkan pada perbedaan biologis, tetapiberdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas[1]. Konsep gender berangkat dari pemikiran dua teori peran laki-laki dan perempuan yang berlawanan, yaitu teori nature dan teori nurture. Teori nature beranggapan bahwa pembangian kerja (perempuan: domestik; laki-laki: publik) disebabkan oleh faktor-faktor biologis laki-laki dan perempuan. Teori nature yang disokong oleh teori biologis dan teori fungsionalisme struktural ini, mengatakan bahwa perbedaan peran gender bersumber dari perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Faktor-faktor itu adalah anggapan secara psikologis bahwa perempuan itu emosional, pasif, dan submisif; sedangkan laki-laki lebih perkasa, aktif dan agresif. Karena itu wajarlah perempuan tinggal dalam rumah, membesarkan anak-anak, memasak dan memberi perhatian kepada suaminya. Sedangkan laki-laki, sesuai dengan struktur biologisnya itu, pergi ke luar rumah untuk mencari makanan/sumber penghidupan bagi keluarga. Jadi teori naturemengesahkan pandangan bahwa daerah perempuan adalah domestik dan daerah laki-laki adalah publik.

Sedangkan teori nurture, yang disokong oleh teori konflik dan teori feminisme, mengandaikan bahwa  perbedaan peran gender antara laki-laki dan perempuan bukan merupakan konsekuensi dari perbedaan biologis yang kodrati, namun lebih sebagai hasil konstruksi manusia, yang pembentukannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural yang melingkupinya. Teori nurture , menolak pandangan kaum nature, dengan memahami bahwa pembagian kerja secara seksual itu tercipta karena proses belajar dan lingkungan. Artinya, perempuan menempati ranah domestik karena diciptakan oleh keluarga dan masyarakat yang mengesahkan pembagian kerja seperti itu.

Berdasarkan dua teori di atas, nampak bahwa ada jurang yang begitu besar di antara keduanya. Masalah yang ditimbulkan oleh teori nature adalah subordinasi perempuan yang dikurung dalam rumah dan ketidakmandirian perempuan. Jika perempuan hanya terkurung di rumah, maka ia tidak mampu secara ekonomi dan bergantung pada laki-laki. Dengan teorinya, kaum nurture merupakan pendobrakan patriarki yang justru dilegalkan oleh teori nature.Dalam perkembangan sosiologi, ternyata dalil teori nurture bahwa pembagian kerja disebabkan karena faktor pembiasaan dari lingkungan sangat tepat. Citra seorang perempuan memang dibentuk oleh masyarakat dan bukan terberi secara alamiah. Maksudnya, banyak perempuan masa kini mulai merasa dirugikan oleh pembagian kerja itu dan mereka juga mulai mengkaji kembali “kodrat” perempuan sebagaimana yang diberikan oleh teori nature.

Dari perbedaan dua teori tersebut konsep gender terangkat, yaitu konstruksi yang terbentuk sebagaimana teri nurture inilah yang bisa diubah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan.