A. Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita

Angka kematian bayi adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Tahun 2012 jumlah kematian bayi yang terjadi di Kota Semarang sebanyak 118 dari 27.448 kelahiran hidup, sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 9,0 per 1.000 KH. Pencapaian tersebut menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan target MDGs dimana tahun 2015 target AKB sebesar 23 per 1.000 KH, maka AKB Kota Semarang telah dibawah target.

Angka Kematian Balita (AKBa) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKBa merepresentasikan risiko terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Berdasarkan data kasus kematian Anak Balita di Kota Semarang Tahun 2012 sebanyak 44 anak dari 27.448 kelahiran hidup, sehingga diperoleh Angka Kematian Balita (AKBa) Kota Semarang sebesar 1,6 per 1.000 KH. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 terjadi penurunan.yakni 3,5 per 1.000 KH. Jika dibandingkan dengan target MDGs yang menetapkan bahwa AKBa tahun 2015 sebesar 32 per 1.000 KH, maka AKBa Kota Semarang telah dibawah target.

Grafik 3.1 Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2009-2012

 Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2012

 

B. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitivitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.

Berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2012 sebanyak 22 kasus dari 27.448 jumlah kelahiran hidup atau sekitar 77,5 per 100.000 KH menurun jika dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu 31 kasus dari 25.852 jumlah kelahiran hidup atau sekitar 119,9 per 100.000

 Grafik 3.2 Angka Kematian Ibu di Kota Semarang Tahun 2009-2012

 Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2012

 Grafik 3.3 Jumlah Kematian Ibu di Kota Semarang Tahun 2009-2012

 Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2012

Dilihat dari waktu kejadiannya , sebanyak 11 kasus merupakan kematian ibu maternal pada masa nifas, kemudian pada waktu persalinan sebanyak 5 kasus dan masa kehamilan 6 kasus. Dilihat dari rentang usia, kematian ibu meternal terbanyak terdapat pada usia ≥ 35 tahun lalu usia 20-34 tahun dan usia

Grafik 3.4 Persentase Kematian Ibu Maternal Berdasarkan Kelompok Umur Kota Semarang Tahun 2012

Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2012

 

C. Gizi Bayi dan Balita

Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di posyandu. Tahun 2012 di Kota Semarang jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 27.448 bayi dan jumlah Balita sebanyak 110.694 anak. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2012 yaitu sebanyak 165 bayi (0,6%) yang terdiri dari 71 bayi laki-laki dan 94 bayi perempuan.

Sedangkan jumlah Balita yang datang dan ditimbang di posyandu dari seluruh balita yang ada yaitu sejumlah 86.904 balita dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak 69.210 anak (79,6%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 1.261 anak (1,5%). Permasalahan gizi yang masih tetap ada dan jumlah cenderung bertambah adalah masalah gizi kurang dan gizi buruk. Kurang gizi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat yang kurang, keadaan sosial ekonomi dan kejadian penyakit.

Sedangkan untuk kasus gizi buruk ditemukan sebanyak 39 kasus, mengalami peningkatan dari tahun lalu yang berjumlah 26 kasus. Dari seluruh kasus gizi buruk tersebut juga telah dilakukan intervensi khususnya upaya perbaikan gizi masyarakat dalam bentuk kegiatan pemberian PMT pemulihan selama 180 hari, perawatan serta pengobatan baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit.

 

D. Penyakit menular

1. TB Paru

Penemuan suspek tahun 2012 sebanyak 11.724 orang mengalami penurunan bila dibanding tahun 2011. Penemuan penderita TB Paru BTA positif sebanyak 1.132 orang (70 %), mengalami peningkatan 143 kasus (9 %) bila dibandingkan tahun 2011 (61%). Penemuan kasus TB anak sejumlah 359 kasus (13%) , sama dengan dengan penemuan TB anak di tahun 2011 356 kasus           (13%) .

Penderita TB BTA positif tahun 2012 berjumlah 1132 kasus, jenis kelamin laki– laki sebanyak 657 kasus (58% ) dan jenis kelamin perempuan sebanyak 475 kasus (42%). Hal ini menunjukkan bahwa penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Sedangkan menurut golongan umur Penderita TB terbanyak pada golongan umur 25-34 th sebanyak 243 kasus ( 23%), kemudian disusul pada golongan umur 45-54 th sebanyak 228 kasus (21%), golongan umur 35-44 th sebanyak 197 kasus (19%), golongan umur 55-65 tahun sebanyak 165 kasus (16%), golongan umur 15-24 th sebanyak 154 kasus (14%), golongan umur >65% sebanyak 71 kasus (7%) dan golongan umur 5-14 th sebanyak 4 kasus , hal ini menunjukkan bahwa penularan TB masih berlangsung disegala usia.

2. HIV/ AIDS

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling, and Testing (VCT), sero survey, dan survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).

Pada tahun 2012 estimasi populasi risti tertinggi dari kelompok pelanggan WPS yaitu 63,8% dari estimasi seluruh populasi risti tertular HIV, sedangkan estimasi populasi risti terendah adalah pasangan tetap waria sebesar 0,05%. Dibandingkan dengan estimasi tahun 2011 terjadi peningkatan 2 kali lipat.

Kasus HIV mengalami peningkatan yang signifikan pada dua (2) tahun terakhir yaitu tahun 2011 sebesar 427 orang dan tahun 2012 sebesar 520 orang. Sementara secara kumulatif sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2012 di Kota Semarang terdapat 2.231 kasus.

Grafik 3.5 Kasus HIV di Kota Semarang

Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2012

 Tahun 2012 jumlah kasus AIDS di Kota Semarang sebanyak 104 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2011 sebesar 59 kasus. Jumlah kematian akibat AIDS tahun 2012 sebanyak 12 orang meningkat dibandingkan tahun 2011 yang sebanyak 10 orang meninggal dunia karena AIDS. Sedangkan kumulatif kasus AIDS dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2012 yaitu sebanyak 339 kasus.

3. Pneumonia

Jumlah penderita pneumonia dengan usia < 1 tahun tahun 2012 menurun 525 kasus dari 1.600 tahun 2011 menjadi 1.075 kasus. Jumlah penderita pneumonia umur 1-4 tahun sebanyak 3.237 meningkat sebanyak 277 kasus dibanding tahun 2011, penderita pneumonia berat umur < 1 tahun sebanyak 180 balita meningkat sebanyak 165 dari tahun sebelumnya dan jumlah pneumonia berat umur 1-4 tahun sebanyak 157 kasus.

 Grafik 3.6 Kasus Pneumonia Balita Kota Semarang Tahun 2012 Menurut Jenis Kelamin

Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2012

 

4. Demam Berdarah

Kasus DBD Kota Semarang pada Tahun 2012 sebanyak 1.250 kasus. Jumlah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dari Tahun 2011 yang mencapai 1.303 kasus atau turun 4,1%. IR DBD tahun 2012 menjadi 70,9 turun 3,9 % dari tahun 2011 yaitu 73,87.

Pola perhitungan Dinas Kesehatan Kota Semarang menggunakan data jumlah penduduk riil. Yang dimaksud penduduk riil adalah orang yang tinggal di Kota Semarang dengan tidak memperhatikan apakah dia beridentitas Kota Semarang maupun tidak. Termasuk anak kost, kontrak atau orang yang tinggal di Kota Semarang dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan data yang diolah Incidence Rate (IR) DBD Kota Semarang dari Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2012 selalu jauh lebih tinggi dari IR DBD Jawa Tengah dan IR DBD Nasional. Tahun 2012 IR DBD Kota Semarang 3 kali lebih tinggi dari IR DBD Jawa Tengah.